Senin, 27 Agustus 2018

SOP ASKEP ASMA BRONCHIALE RAWAT INAP PUSKESMAS,AKRIDITASI

SOP ASKEP ASMA BRONCHIALE  RAWAT  INAP



ASKEP ASMA BRONCHIALE
RAWAT  INAP


SOP
No. Dokumen
:
No. Revisi
:
Tanggal Terbit
:
Halaman
:
UPT PUSKESMAS




1.   Pengertian
Masalah Kesehatan
Asma adalah penyakit heterogen, selalu dikarakteristikkan dengan inflamasi kronis di saluran napas. Terdapat riwayat gejala respirasi seperti mengi, sesak, rasa berat di dada dan batuk yang intensitasnya berberda-beda berdasarkan variasi keterbatasan aliran udara ekspirasi
2.   Tujuan
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk tata laksana  Asma Bronchiale
3.      Kebijakan
Surat Keputusan Kepala Puskesmas Nomor 188.4 / 003 / I          /201 Tahun 201 , tentang Kebijakan Pelayanan Klinis UPT Puskesmas
4.   Referensi
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/Menkes/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama
5.   Prosedur/ Langkah – langkah
Hasil Anamnesis (Subjective)
Gejala khas untuk Asma, jika ada maka meningkatkan kemungkinan pasien memiliki Asma, yaitu :
1. Terdapat lebih dari satu gejala (mengi, sesak, dada terasa berat) khususnya pada dewasa muda
2. Gejala sering memburuk di malam hari atau pagi dini hari
3. Gejala bervariasi waktu dan intensitasnya
4. Gejala dipicu oleh infeksi virus, latihan, pajanan allergen, perubahan cuaca, tertawa atau iritan seperti asap kendaraan, rokok atau bau yang sangat tajam

ASKEP ASMA BRONCHIALE



Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pasien asma biasanya normal. Abnormalitas yang paling sering ditemukan adalah mengi ekspirasi saat pemeriksaan auskultasi, tetapi ini bisa saja hanya terdengar saat ekspirasi paksa. Mengi dapat juga tidak terdengar selama eksaserbasi asma yang berat karena penurunan aliran napas yang dikenal dengan “silent chest”.
Pemeriksaan Penunjang
1. Arus Puncak Ekspirasi (APE) menggunakan Peak Flowmeter
2. Pemeriksaan darah (eosinofil dalam darah)

Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, yaitu terdapat kenaikan ≥15% rasio APE sebelum dan sesudah pemberian inhalasi salbutamol.
Klasifikasi
Klasifikasi asma bronkial Derajat Asma
Gejala
Gejala Malam
Faal Paru

I. Intermiten

Bulanan
APE ≥ 80%
Gejala< 1x/minggu
≤ 2 kali sebulan
VEP1≥ 80% nilai prediksi
Tanpa gejala diluar serangan
APE ≥ 80% nilai terbaik
Serangan singkat
Variabiliti APE < 20%

II. Persisten ringan

Mingguan
APE > 80%
Gejala> 1 x/minggu, tetapi< 1 x/hari
>2 kali sebulan
VEP1≥ 80% nilai prediksi
Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur
APE ≥ 80% nilai terbaik
Variabiliti APE 20% - 30%

III. Persisten sedang

Harian
APE 60 – 80%
Gejala setiap hari
>1 x/seminggu
VEP160 – 80% nilaiprediksi
Serangan mengganggu aktivitas dan tidur
APE 60 – 80% nilaiterbaik


Penilaian derajat kontrol asma
Penilaian klinis (4 minggu terakhir)

Karakteristik
Terkontrol
(tidak ada gejala)
Terkontrol sebagian (terdapat salah satu gejala)
Tidak terkontrol
Gejala harian
Tidak ada
(≤ 2/minggu )
> 2 /minggu
Tiga atau lebih gambaran asma terkontrol sebagian
Keterbatasan aktivitas
Tidak ada
Ada
Gejala malam/terbangun
Tidak ada
Ada
Butuh pelega/ pemakaian inhaler
Tidak ada
(≤ 2 /minggu)
> 2 /minggu
Fungsi paru
(APE atau KVP1 )***
Normal
< 80 % prediksi atau nilai yang terbaik

B. Penilaian risiko di masa akan datang (risiko eksaserbasi, ketidakseimbangan, penurunan fungsi paru, efek samping)
Gambaran yang dihubungkan dengan peningkatan risiko yang lebih parah di masa depan termasuk :
Kontrol klinis yang buruk, jumlah eksaserbasi pertahun, riwayat perawatan karena asma, pajanan asap rokok, penggunaan obat dosis tinggi)
Semua eksaserbasi terjadi dalam pengobatan yang adekuat
** Berdasarkan definisi, eksaserbasi di minggu apapun membuat asma tidak terkontrol
*** Tanpa pemberian bronkodilator
Fungsi paru tidak untuk anak 5 tahun atau lebih muda

Diagnosis Banding
Disfungsi pita suara, Hiperventilasi, Bronkiektasis, Kistik fibrosis, Gagal jantung, Defisiensi benda asing
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
1. Pasien disarankan untuk mengidentifikasi serta mengendalikan faktor pencetusnya.
2. Perlu dilakukan perencanaan dan pemberian pengobatan jangka panjang serta menetapkan pengobatan pada serangan akut sesuai tabel di bawah ini.

Penatalaksanaan asma berdasarkan beratnya keluhan Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan, tidak melebihi 3-4 kali sehari




Berat Asma

Medikasi pengontrol harian
Alternatif / Pilihan lain
Alternatif lain
Asma Intermiten
Tidak perlu
----
----
Asma Persisten Ringan
Glukokortikoster oid inhalasi (200- 400 μg BB/hari atau ekuivalennya)

Teofilin lepas lambat
Leukotriene modifiers

----
Asma Persisten Sedang
Kombinasi inhalasi glukokortikostero id (400-800 μg BB/hari atau ekuivalennya) dan agonis beta-2 kerja lama

Glukokortikosteroid inhalasi (400-800 μg BB atau ekuivalennya) ditambah Teofilin lepas lambat, atau
Glukokortikosteroid inhalasi (400-800 μg BB/hari atau ekuivalennya) ditambah agonis beta-2 kerja lama oral, atau
Glukokortikosteroid


Ditambah agonis beta-2 kerja lama oral, atau
Ditambah teofilin lepas lambat

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan)
1. Foto toraks
2. Uji sensitifitas kulit
3. Spirometri
4. Uji provokasi bronkus

Komplikasi
Pneumotoraks, Pneumomediastinum, Gagal napas, Asma resisten terhadap steroid.
Konseling dan Edukasi
1. Memberikan informasi kepada individu dan keluarga mengenai seluk beluk penyakit, sifat penyakit, perubahan penyakit (apakah

membaik atau memburuk
2. Kontrol secara teratur antara lain untuk menilai dan monitor berat asma secara berkala (asthma control test/ ACT)
3. Pola hidup sehat.
4. Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan dengan:
a) Menghindari setiap pencetus.
b) Menggunakan bronkodilator/ steroid inhalasi sebelum melakukan exercise untuk mencegah exercise induced asthma.

), jenis dan mekanisme kerja
obatobatan
dan mengetahui
kapan harus meminta pertolongan dokter.
Kriteria rujukan
1. Bila sering terjadi eksaserbasi.
2. Pada serangan asma akut sedang dan berat.
3. Asma dengan komplikasi.

Persiapan dalam melakukan rujukan bagi pasien asma, yaitu:
1. Terdapat oksigen.
2. Pemberian steroid sistemik injeksi atau inhalasi disamping pemberian bronkodilator kerja cepat inhalasi.
3. Pasien harus didampingi oleh dokter/tenaga kesehatan terlatih selama perjalanan menuju ke pelayanan sekunder.


Prognosis
1. Ad sanasionam : bonam
2. Ad fungsionam : bonam
3. Ad vitam : bonam

6.   Unit terkait
 Pelayanan Umum Rawat jalan
KIA
Rawat inap
IGD




Rekaman Historis Perubahan
NO
Halaman
Perubahan
TGL. Berlaku