Minggu, 14 Januari 2018

Pengertian Penyebab Gejala Cara Pencegahan Cara Penularan Komplikasi Penyakit Difteri


Pengertian Difteri
Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang biasanya menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan. Penyakit difteri termasuk penyakit yang mudah menular serta penyakit infeksi yang perbotensi bisa mengancam jiwa.   
Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Understanding, Causes, Symptoms, How to Prevent, Mode of Transmission, Complications of Diphtheria Disease,
Pengertian Penyakit Difteri

Dan hampir 90% dari penderita yang terinfeksi penyakit difteri, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.
Penyakit Difteri merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia.
Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) serta tetanus  disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia.

Penyebab Difteri
Penyakit Difteri yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.  Penyebaran dan penularan  bakteri difetri dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi anak yang tidak mendapat vaksin difteri.

Cara penularan penyakit Difteri adalah :
1.Terhirup percikan ludah penderita difteri di udara saat penderita bersin
    atau batuk.
2.Barang-barang yang  terkontaminasi  bakteri difteri,
   Seperti : mainan atau handuk.
3.Bersentuhan langsung pada luka /borok (ulkus) akibat difteri pada kulit
   penderita.

Bakteri difteri  menghasilkan racun yang  membunuh sel-sel sehat didalam tenggorokan, yang mengakibatkan sel mati. Sel-sel yang mati ini, yang membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan.
Di samping itu, racun yang dihasilkan akan berpotensi menyebar didalam aliran darah dan bisa merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.
Penyakit difteri juga bisa  tidak menunjukkan gejala-gejala apapun, sehingga penderita tidak menyadari  dirinya sudah terinfeksi penyakit difteri.
Dan bila penderita penyakit difteri tidak menjalani pengobatan dengan tepat, akan  berpotensi menularkan penyakit kepada orang, terutama  yang belum mendapatkan imunisasi.
Penyakit Difteri pada umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. 

Gejala-gejala  penyakit difteri meliputi:
1.Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi
   tenggorokan dan amandel.
2.Demam dan menggigil.
3.Sakit tenggorokan dan suara serak.
4.Sulit bernapas atau napas yang cepat.
5.Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
6.Lemas dan lelah.
7.Pilek.
   Pilek yang awalnya berbentuk cair, lama-kelamaan menjadi kental dan
   terkadang bisa bercampur darah.
Difteri juga dapat menyerang kulit serta akan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi akan meninggalkan bekas pada kulit.

Komplikasi Difteri
Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.
Komplikasi penyakit difteri dapat berupa :
1,Masalah pernapasan. 
Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. 2.Kerusakan jantung. 
Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis.
3.Kerusakan saraf.
 Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki.
4.Difteri hipertoksik. 
Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

Pencegahan Difteri dengan Vaksinasi
Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.
Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun.
Sumber bacaan: alodokter.com
Pengertian, Penyebab, Gejala, Cara Pencegahan, Cara Penularan, Komplikasi Penyakit Difteri,
Understanding, Causes, Symptoms, How to Prevent, Mode of Transmission, Complications of Diphtheria Disease,